Sabtu, 05 November 2016

UNSUR-UNSUR MANAJEMEN  PELAYANAN KESEHATAN

 

A.PENGERTIAN MANAJEMEN KESEHATAN

          Dalam kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan tiap kegiatan atau program itu tercapai dengan baik.  Proses pengaturan kegiatan ilmiah atau ilmu seni tentang bagaiman menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif serta rasional untuk mencapai tujuan ini disebut manajemen  , sedangkan untuk mengatur kegiatan – kegiatan aau pelayanan kesehatan masyarakat disebut “ Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat “ . 
Sebagaian orang masih rancu dengan pengertian manajemen, kebanyakan masih menyatakan bahwa proses pengaturan kegiatan untuk mencapai tujuan ini disebut “Administrasi”.   “Manajemen ialah seni tentang bagaiman menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif serta rasional untuk mencapai tujuan. Administrasi sendiri ialah ilmu dan seni yang mempelajari kerjasama kelompok orang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan .  Bedanya dengan manajemen adalah Manjemen sebai proses sosial dan organisasi sebagai system sosial ( Marry Parket Follet)
                    Banyak ahli yang telah membuat batasan tentang manajemen ini, antara lain:
a.       The accomplishing of a predetermined objectives through the effort other people atau : Manajemen adalah pencapaiam tujuam – tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain. (Robert D.Terry)
b.      Manajemen adalah  “the process , by which the excution of given purpose is put in to to operation and supervised atau : Manajemen adalah proses dimana pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi . ( Encyclopasdia of social sciences).
c.       Manjemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengkoordinasi kegiatan-kegaiatn orang lain guna mencapai hasil (tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya satu orang saja (Evancevich), 1989).
Kesimpulannya ialah Manjemen Kesehatan merupakan penerapan manajemen umum dalam system pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah system pelayanan kesehatan masyarakat.
Fungsi manajemen menurut bebrapa ahli ialah :
1.      GR.Terry : Planning, organizing , actuating , controlling.
2.      Henry Fayol : Planning , organizing , commanding ,  coordinating , controlling.
3.      Koontz o Donnel : Planning, organizing, staffing, directing, controlling.
Secara garis besar ialah:
a.         Perencanaan (Planning)
b.         Pengorganisasian ( Organizing)
c.         Penyusunan personalian ( Staffing )
d.        Pengkoordinasian ( Coordinating)
e.         Penyusunan anggaran ( Budgeting)
Unsur-unsur manajemen dalam pelayanan kesehatan ialah:

A.PERENCANAAN

          Perencanaan adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan, menyusun dan menetapkan rangkaian kegiatan untuk mencapainya.
       Dalam bidang kesehatan sendiri, manajemen merupakan proses merumuskan masalah-masalah kesehatan di masyarakat , menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia , menetapkan tujuan program yang paling pokok , dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
                        Dapat ditarik kesimpulan:
1.      Perencanaan harus didasarkan kepda analisa dan pemahaman system dengan baik.
2.      Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasai.
3.      Perencanaan secara implicit mengemban misi organisasai untuk mencapai hari depan yang lebih baik.
Manfaat perencanaan dari manajemen ialah:
1.  Memberikan arah yang jelas pada organisasi karena mengetahui tujuan dan cara mencapainya.
2.      Mengetahui struktur organisasi yang dibutuhkan.
3.      Mengetahui jenis dan jumlah staf yang diinginkan dan urain tugasnya.
4.      Mengukur hasil kegiatan yang akan dicapai.
 Perencanaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain:
             a.Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana
1)      Rencana jangka panjang (long term planning) yang berlaku antara 10-25 tahun.
2)      Rencana jangka menengah (Medium range planning) , yang berlaku antara 5-7 tahun.
3)      Rencana jangka pendek ( short range palnning), umunya berlaku hanya untuk 1 tahun.
b.Dilihat dari tingkatannya
1)      Rencana induk (masterplan) , lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi.
2)      Rencana oprasional (operational planning) , lebih menitik beratkan pada pedoman atau petunjuk dalam melaksanakan suatu program.
3)      Rencana harian ( Day to day palnning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.
c.Ditinjau dari lingkupnya
1)        Rencana strategis (strategic planning ), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama.
2)        Rencana taktis (tactical planning) ialah rencana yang berisi uaraian yang bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegaiatan , asalakan tujuannya tidak berubah.
3)        Rencana menyeluruh (comprehensive planning) , ialah rencana yang mengandung uraian secara menyeluruh dan lengkap .
4)        Rencana terintegrasi (integrated palnning) ialah rencana yang mengandung uraian yang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain di luar  kesehatan.
Proses Perencanaan
1. Analisa Situasi
            Dilakukan dengan pendekatan SWOT ; Stregth , Weakneesses, Opporcunity, Treath.
2. Identifikasi masalah
            7 langkah untuk mengidentifikasi masalah kesehtan ialah:
1.        Apa masalah kesehatan yang sedang dihadapi?
2.        Apa masalah yang sering dihadapi?
3.        Apa faktor-faktor penyebabnya?
4.        Kapan masalah itu timbul?
5.        Siapa kelompok masyarakat yang paling banyak menderita?
6.        Diamana kejadian yang paling banyak?
7.        Apa kemungkinan dampak yang muncul, bila masalah kesehatan tersebut tak tertangani ?
8.        Apa upaya program untuk mengatasi masalah tersebut?
Sumber masalahnya sendiri bisa diperoleh dari berbagai cara, antara lain:
a)        Laporan-laporan kegiatan dari program kesehatan yang ada.
b)        Suvailance epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit
c)        Survai kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan.
d)       Hasil kunjungan lapangan supervisi, dan sebagainya.
               3.Menetapkan Prioritas Masalah
                        Pemilihan prioritas dapat dilakukan melaui 2 cara, yakni:
a) Melalui teknik scoring, yakni memberikan nilai (scor) terhadap masalah terebut dengan mengunkan ukuran (parameter) antra lain:
§  Pravelensi penyakit ( prevalence) atau besarnya masalah.
§  Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masyarakat tersebut (severity)
§  Kenaikan atau meningkatnya prevalensi (rate of increase)
§  Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of unmeet need)
§  Keuntungan sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasai ( social benefit)
§  Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasibility)
§  Sumber daya yang tersedia dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah ( resources availability), termaksud tenaga kesehatan.
§  b) Melalaui Teknik Non Skoring :
§  Dengan melalaui diskusi kelompok, oleh sebab itu disebut juga “Nominal Group Tecnique” (NGT) .Ada 2 NGT , yakni:
§  Delphi Techniquew : yaitu masalah- masalah didiskusikan oleh sekelompok oarang yang mempunyai keahlian yang sama.
§  Delbeq Technique :menetapkan prioritas dengan melakukan diskusi kelompok dengan orang yang berbeda keahlian.
4.Menetapkan Tujuan Program
            Suatu tujuan oprasional suatu manajemen harus mengandung unsure:
§  What ; Kegiatan apa yang akan dikerjakan harus jelas.
§  Who; Sasarannya harus jelas, siapa ynag akan mengerjakan , berapa yang ingin dicapai.
§  When; Kejelasan waktu untuk menyelesaikan kegiatan.
§  How; prosedur kerjanya jelas dan harus sesui dengan satandar pelayanan kesehatan.
§  Why; mengapa kegaiatn itu harus dikerjakan denagn penjelasan yang jelas.
§  Where; kapan dan dimana kegiatan akan dilakukan tertera jelas.
§  Jika perlu ditambah which; siapa yang terkait dengan kegiatan tersebut (Lintas sector maupun lintas program yang terkait).
                        Dalam menetapkan tujuan dapat menggunkan cara dengan  pertanyaan yang perlu dijawab:
1.      Potensi organisasai?
2.      Target program( sejauh mana akan dipecahkan cangkupan)?
3.      Target waktu?
Gunanya ialah :
1.      Untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai tujuan.
2.      Memudahkan untuk evaluasi.
Kriteria penentuan tujuan:
SMART!!!
S  = Sepesific (mempunyai interprestasi sama)
M = Measurable (dapat diukur kemajuannya)
A = Appropiate (sesuai dengan tujuan nasional , program, institusi).
T = Time bound (sumber daya dapat dialokasikan dan kegiatan sesuai denagn tenggat waktu)
5.Menetapkan Rencana Kegiatan
                        Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegaiatan-kegaiatn yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umunya kegiatan mencangkup 3 tahap pokok, yakni:
§  Kegiatan pada tahap persiapan , yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan, misalnya : rapat-rapat koordinasi, perizinan dan sebagainya.
§  Kegiatan pada tahap pelaksnaan yakni kegaiatan pokok program yang bersangkutan.
§  Kegiatan pada tahap penilain yakni kegiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut.
B.PENGORGANISASIAN
                        Alat yang akan dapat merealisasikan tujuan dan sasaran organisasi dan hal yang paling pokok adalah pembagian tugas atau merupakan alat untuk memadukan / mensinkronisasikan semua kegiatan yang beraspek personil, finansial , material, dan tatacara dalam rangka menapai tujuan yang telah ditetapkan.
                        Manfaat organisasai adalah:
1.      Pembagian tugas untuk perorangan / kelompok .
2.      Hubungan koordinasi dalam kegiatn yang akan dilakukan antar anggota organisasai dulu.
3.      Pendelegasian wewenang.
4.      Pemanfaatan fasilitas fisik dan anggota.
Langkah-langkah pengorganisasaian ialah;
1.      Tujuan organisasai harus dipahami oleh pelaksana dan tertuang dalam perencanaan .
2.      Membagi habis kegaiatan apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dikerjakan.
3.      Menggolongkan kegiatan pokok dalam satuan kegiatan yang praktis untuk dikerjakan petugas.
4.      Menetapkan apa yang kan dikerjkan oleh petugas pelayanan
5.      Memilih petugas yang cakap untuk mengerjakan kegiatan yang direncanakan .
6.      Pendelegasian wewenang.
C.PELAKSANAAN (AKTUASI)
            Merupakan usaha untuk menciptakan kerjasama di antara pelaksana kegiatan sehingga tujuan organisasai tercapai secara efektif dan efisien.
            Tujuan aktuasi ialah:
1.      Menciptakan kerjasama yang lebih efisien.
2.      Mengembangkan kemampuan dan keterampilan petugas.
3.      Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai apa yang menjadi tanggung jawabnya.
4.      Menciptakan suasana kerja yang dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi petugas.
5.      Organisasi dapat berkembang lebih dinamis.
Elemen-elemen aktuasi:
1.      Kepemimpinan
2.      Motovasi
3.      Komunikasi
D.PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
                        Tujuan pengawasan ialah sebgai pengemban efisiensi penggunaan sumber daya dan menjamin efektiftas tujuan program.      
                        Manfaat dari pengawasan ialah:
1.      Meningkatkan efisiensi.
2.      Mengetahui penyimpangan pengetahuan, skill staf.
3.      Mengetahui apakah waktu dan sumberdaya lainya telah mencukupi kebutuhan dan telah digunakan secara benar.
4.      Mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
5.      Mengetahui staf yang dapat diberikan reward dan punishment.
Jenis standar pengawasan:
1.      Norma didasarkan atas pengalaman masa lalu .
2.      Kriteria standar yang diharapkan dari upaya-upaya kesehtan.
Ada 3 langkah penting dalam melakukan pengawasan:
1.      Mengukur hasil yang telah dicapai.
2.      Membandingkan hasil kerja dengan tolak ukur yang tealAh dibuat dalam perencanaan.
3.      Memperbaiki penyimpangan yang dijumpai, faktor apa penyebabnya, dan menetapkan langkah lanjutan untuk mengatasi.
Cara memperoleh data dalam pengawasan :
1.         Pengamatan langsung
2.         Ini dilakukan dengan supervis kelapangan untuk mengamati kegiatn petugas . Hasil yang dicapai lebih akurat (Lebih objektif)
3.         Laporan lisan , hasil kegiatan disampaikan oleh petugas, biasanya informasi yang diperoleh terbatas.
4.         Laporan tertulis, biasanya informasi yang dipoleh terbatas pada hal yang dianggap penting oleh petugas , namun laporan tertulis ini dapat diamanfaatkan untuk pengembangan program.

Jumat, 04 November 2016


Manajemen Rumah Sakit


Pengertian Rumah Sakit
Wikipedia (2008) mendefinisikan bahwa Rumah Sakit (hospital) adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Rumah sakit merupakan organisasi yang rawan konflik, karena sebagian besar orang-orang dalam keadaan sakit atau tidak normal, yang oleh karena itu menjadi peka dan mudah emosional.
Rumah sakit mempunyai perbedaan dibandingkan industri yang lain. Menurut Tjandra (2003:170). Ada tiga ciri khas rumah sakit yang membedakannya dengan industri lainnya:
a.       Dalam industri rumah sakit, sejogyanya tujuan utamanya adalah melayani kebutuhan manusia, bukan semata-mata menghasilkan produk dengan proses dan biaya yang seefisien mungkin. Unsur manusia perlu mendapatkan perhatian dan tanggung jawab pengelola rumah sakit. Perbedaan ini mempunyai dampak penting dalam manajemen, khususnya menyangkut pertimbangan etika dan nilai kehidupan manusia.
b.      Kenyataan dalam industri rumah sakit yang disebut pelanggan (customer) tidak selalu mereka yang menerima pelayanan. Pasien adalah mereka yang diobati di rumah sakit. Akan tetapi, kadang-kadangbukan mereka sendiri yang menentukan di rumah sakit mana mereka harus dirawat. Di luar negeri pihak asuransilah yang menentukan rumah sakit mana yang boleh didatangi pasien. Jadi, jelasnya, kendati pasien adalah mereka yang memang diobati di suatu rumah sakit, tetapi keputusan menggunakan jasa rumah sakit belum tentu ada di tangan pasien itu. Artinya, kalau ada upaya pemasaran seperti bisnis lain pada umumnya, maka target pemasaran itu menjadi amat luas, bisa pasiennya, bisa tempat kerjanya, bisa para dokter yang praktek di sekitar rumah sakit, dan bisa juga pihak asuransi. Selain itu, jenis tindakan medis yang akan dilakukan dan pengobatan yang diberikan juga tidak tergantung dengan pasiennya. Tapi tergantung dari dokter yang merawatnya.
c.       Kenyataan menunjukan bahwa pentingnya peran para professional termasuk dokter, perawat, ahli farmasi, fisioterapi, radiografer, ahli gizi dan lain-lain.
Fungsi Rumah Sakit
Menurut Departemen Kesehatan RI (1997:4) mengatakan bahwa fungsi-fungsi
rumah sakit terdiri dari 4 bidang, yaitu :
1.      Fungsi pelayanan, yang meliputi pelayanan medik, pelayananpenunjang medik, pelayanan dan asuhan keperawatan serta pelayanan rujukan.
2.      Fungsi pendidikan dan pelatihan
3.      Fungsi penelitian dan pengembangan
4.      Fungsi adminisratif umum dan keuangan (termasuk hubungan masyarakat)
Menurut Suparto (1995: 46) strategi jangka panjang sangat diperlukan dalam membangun rumah sakit. Ada 3 tipe runah sakit yang bisa menjadi   sasaran,diantaranya :
1)      Volume/mass product
Rumah sakit yang mengutamakan pelayanan (jumlah pasien) sebanyak-banyaknya. Rumah sakit ini tidak mengutamakan spesialisasi dan menekan biaya serendah-rendahnya untuk mendapatkan sebanyak mungkin pasien.
2)      Diferensiasi
Mengutamakan spesialisasi, bila perlu sub spesialisasi. Rumah sakit dituntut untuk menyiapkan banyak spesialisasi dengan sarana yang cukup untuk menunjang masing-masing spesialisasi. Pada tipe ini persaingan lebih kepada mutu dan bukan harga.
3)      Fokus
Di sini rumah sakit berkonsentrasi pada spesialisai tertentu, misalnya : rumah sakit khusus jantung, rumah sakit khusus mata, rumah sakit khusus kanker sehingga di sini mutu di tuntut lebih tinggi lagi jika ingin bertahan dalam peta persaingan.
 Pengertian Manajemen Rumah Sakit
Menurut Schulz R,dkk mengemukakan dua pendapat mengenai manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya (unsur manajemen) melalui proses perencanaan, pengorganisasian, ada kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan rumah sakit), atau manajemen ilmu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan rumah sakit.
Tujuan Manajemen Rumah Sakit
Tujuan manajemen rumah sakit seperti berikut ini :
1.      Menyiapkan sumber daya
2.      Mengevaluasi efektivitas
3.      Mengatur pemakaian pelayanan
4.      Efisiensi
5.      Kualitas
          Pencapaian tujuan tersebut di atas dari penelitian ternyata diperlukan manajemen rumah sakit, tanpa upaya manajemen tak akan mencapai tujuan.
Samsi Jacobalis (2000:175) menyatakan bahwa, masalah utama dari manajemen rumah sakit saat ini adalah bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan institusional, antara lain :1) Bagaimana meningkatkan mutu sumberdaya manusia, 2) Bagaimana menyempurnakan sistem-sistem dirumah sakit,dan 3) Bagaimana menyempurnakan sarana untuk mendukung manusia dan sistem.

Senin, 31 Oktober 2016



Tugas Organisasi manajemen Rumah Sakit 

 


Rumah sakit adalah pusat pelayanan kesehatan yang sangat penting dalam masyarakat yaitu melakukan pelayanan melalui pendekatan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan dilaksanakan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Rumah sakit juga dituntut untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Sebuah kualitas rumah sakit dapat berpengaruh pada citra rumah sakit tersebut. Untuk itu rumah sakit harus memiliki pengorganisasian dan manajemen yang baik.
            Manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya (unsur manajemen) melalui proses perencanaan, pengorganisasian, kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan rumah sakit. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam manajemen rumah sakit agar pelaksanaan program dan sistem – sistem yang ada di rumah sakit dapat berjalan dengan baik.
            Untuk itu perlu dilakukan pembahasan secara lebih rinci mengenai organisasi dan manajemen rumah sakit ini. Sehingga kita mengetahui bagaimana organisasi dan manajemen rumah sakit yang baik, karena hal ini merupakan hal sangat penting yang harus diperhatikan demi berjalannya kinerja di rumah sakit yang sesuai sehingga memberikan pengaruh yang bagus pada  kualitas rumah sakit .
1.2.        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbul permasalahan, rumusan masalah dalam makalah mengenai organisasi dan manajemen rumah sakit adalah :
a.    Apakah pengertian organisasi manajemen rumah sakit ?
b.    Apa saja jenis- jenis rumah sakit ?
c.    Bagaimana manajemen fungsional dan manajemen mutu di rumah sakit ?
d.    Bagaimana sistem informasi rumah sakit ?
e.    Bagaimana pemecahan masalah dan pengambilan keputusan di rumah sakit ?
f.     Bagaiman pola evaluasi manajemen rumah sakit ?
1.3.        Tujuan
Tujuan Umum dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana organisasi dan manajemen yang ada di dalam rumah sakit. Tujuan ini dapat dijabarkan secara khusus, sebagai berikut :
a.      Untuk mengetahui pengertian organisasi manajemen rumah sakit
b.      Untuk mengetahui jenis- Jenis Rumah Sakit
c.      Untuk mengetahui manajemen fungsional dan manajemen mutu di rumah sakit
d.      Untuk mengetahui sistem informasi rumah sakit
e.      Untuk mengetahui pemecahan masalah dan pengambilan keputusan di rumah sakit
f.       Untuk mengetahui evaluasi manajemen rumah sakit
1.4.        Manfaat
Dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kepada mahasiswa terkait organisasi dan manajemen di rumah sakit. Sehingga mahasiswa dapat memahami secara lebih rinci dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan baik .
Pengertian Organisasi Manajemen Rumah Sakit
Organisasi secara etimologi berasal dari bahasa latin organizare, kemudian (inggris) organize yang berarti membentuk suatu kebulatan dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lainnya. Pengertian organisasi menurut Dimok (1996:26), “Organisasi adalah perpaduan secara sistematika dari bagian-bagian yang saling bergantung atau berkaitan untuk membentuk satu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan”.
Sedangkan pendapat tentang organisasi menurut Hermaya (1996:26), “Organisasi adalah tempat atau wahana proses kegiatan kumpulan orang-orang yang bekerja sama mempunyai fungsi dan wewenang untuk mengerjakan usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan”.
Jadi Organisasi rumah sakit adalah suatu organisasi yang di bangun untuk mempermudah, mempercapat para masyarakat agar lebih efisien jika ingin pergi ke rumah sakit, sehingga prosedur-prosedur yang ada disana semakin mudah untuk di lakukan oleh para pasien atau konsumen-konsumen yang berada di rumah sakit. Serta bukan hanya untuk para pasien saja tapi ini semua suatu organisasi juga berguna untuk para instasi-instasi yang ada di dalam rumah sakit tersebut sehingga mereka semua dapat bekerja dengan lebih mudah, cepat dalam melayani pasien-pasien yang datang ke rumah sakit tersebut dan juga mempermudah kerja mereka sendiri
Sedangkan pengertian manajemen Menurut Koontz and Donnel (1972) , ”Management is getting thing done through the efforts of other people” (Manajemen adalah terlaksananya pekerjaan melalui orang-orang lain).
Menurut G.R. Terry, Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.
Jadi Manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya (unsur manajemen) melalui proses perencanaan, pengorganisasian, kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan rumah sakit seperti: Menyiapkan sumber daya, mengevaluasi efektivitas, mengatur pemakaian pelayanan, efisiensi, Kualitas.
Manajemen di Rumah Sakit haruslah dilaksanakan seperti “bebek merenangi kolam,” tampak tenang di permukaan dan tetap aktif bergerak di bawah permukaan (Wilan, 1990). Hal ini perlu dilakukan karena rumah sakit berhadapan dengan orang khususnya orang sakit sehingga harus tampak tenang di satu pihak. Di pihak lain, karena kompleksnya masalah yang dihadapi di rumah sakit, maka para manajernya harus betul-betul aktif bergerak terus untuk mampu memberi pelayanan yang terbaik.
2.2.        Jenis- Jenis Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah Institusi pelayanan kesehatan yang menyelanggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rawat Inap adalah pelayanan pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi dan atau pelayanan kesehatan yang lainnya dengan menginap di rumah sakit. Pelayanan Rawat Jalan adalah pelayanan pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayan kesehatan lainnya tanpa menginap di rumah sakit. Pelayanan Gawat Darurat adalah pelayanan daruratan medik yang harus diberikan secepatnya untuk mencegah atau menanggulangi resiko kematian atau cacat.  
Jenis dan klasifikasi Rumah Sakit di Indonesia di atur dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pada BAB VI pasal 18 sampai dengan pasal 24. Pada pasal 18 dijelaskan bahwa jenis Rumah Sakit dapat dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya.
1.    Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit di kategorikan menjadi Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.
a.    Rumah Sakit Umum
Rumah Sakit Umum adalah jenis rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada semua bidang dan jenis penyakit. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/Per/III/2010 Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi :
1.    Rumah Sakit Umum Kelas A
        Rumah Sakit Umum Kelas A adalah Rumah Sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 spesialis penunjang medik,  12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) sub spesialis. Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas A meliputi :
a.  Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Pelayanan Medik Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b.  Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c.   Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obsteri dan Ginekologi.
d.  Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik, Patologi Klinik, dan Patologi Anatomi.
e.  Pelayanan Medik Spesialis lain sekurang kurangnya terdiri dari Pelayanan Mata, Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung, Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Kedokteran Jiwa, Paru, Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf, Bedah Plastik dan Kedokteran Forensik.
f.    Pelayaan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari Pelayanan Bedah Mulut, Konservasi,/Endodonsi, Periodonti, Orthodonti, Prosthodonti, Pedodonsi, dan Penyakit Mulut 
g.  Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
h.  Pelayanan Medik Subspesialis terdiri dari Subspesialis Bedah, Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Obsteri dan Ginekologi, Mata, Telinga Hidung Tenggorokan,Syaraf, Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Jiwa, Paru, Orthopedi dan Gigi Mulut.
i.    Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik.
j.    Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang, Ambulance, Komunikasi, Pemulasaraan Jenazah, Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air Bersih
        Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis tingkat pelayanan, dibawwah ini akan dijelaskan mengenai tenaga kesehatan di tipa jenis dan ingkat pelayanan pada Rumah Sakit Umum tipe A :
a.  Pada Pelayanan  Medik Dasar minimala harus ada 18 orang dokter umum dan 4 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
b.  Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-masing minimal 6 orang dokter spesialis dengan masing-masing 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
c.   Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada masing-masing minmal 3 orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
d.  Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-masing minimal 3 orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
e.  Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi dan Mulut harus ada masing-masing minmal 1 orang dokter gigi spesialis sebagai tenaga tetap
f.    Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-masing minimal 2 orang dokter subspesialis dengan masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga tetap
g.  Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan Rumah Sakit
h.  Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit
        Sarana Prasaranan an peralatan yang ada di Rumah Sakit Umum kelas A harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di Rumah Sakit Umum Kelas A harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh undang-undang.
        Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum tipe A minimal terdapat 400 buat tempat tidur.  Sedangkan dari segi administrasi dan manajemen di Rumah Sakit Umum kelas A terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur organisasi di Rumah sakit Umum Kelas A paling sedikit terdiri atas kepala rumah sakit atau direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medik, unsur keperawatan, unsur penungjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan tata laksana meliputi tata laksana organisasi, standar pelayanan, stanndar operasinal prosedur(SPO), sistem Informasi Mananjemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan Medical Staff by laws.
        Contoh : RSU Dr Cipto Mangunkusumo, RS PAD Gatot Soebroto, RS Jiwa Jakarta
2.    Rumah Sakit Umum Kelas B
        Rumah Sakit Umum Kelas B adalah Rumah Sakit Umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (spesialis dasar), 4 (empat) spesialis penunjang medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) sub spesialis dasar. Kriteria, fasilitas dan Kemampuan Rumah Sakit Kelas B meliputi :
a.  Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Pelayanan Medik Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b.  Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c.   Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obsteri dan Ginekologi.
d.  Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik, Patologi Klinik.
e.  Pelayanan Medik Spesialis lain sekurang kurangnya 8 (delapan) dari 13 (tiga belas) pelayanan meliputi Mata, Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung, Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Kedokteran Jiwa, Paru, Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf, Bedah Plastik dan Kedokteran Forensik.
f.    Pelayaan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari Pelayanan Bedah Mulut, Konservasi,/Endodonsi, Periodonti
g.  Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
h.  Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik.
i.    Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang, Ambulance, Komunikasi, Pemulasaraan Jenazah, Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air Bersih.
        Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis tingkat pelayanan, dibawah ini akan dijelaskan mengenai tenaga kesehatan di jenis dan tingkat pelayanan pada Rumah Sakit Umum Kelas B :
a.  Pada Pelayanan  Medik Dasar minimal harus ada 12 orang dokter umum dan 3 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
b.  Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-masing minimal 3 orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
c.   Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada masing-masing minimal 2 orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
d.  Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-masing minimal 1 orang dokter spesialis setiap pelayan dengan 4  orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang berbeda
e.  Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi dan Mulut harus ada masing-masing minmal 1 orang dokter gigi spesialis sebagai tenaga tetap
f.    Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-masing minimal 1 orang dokter subspesialis dengan masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga tetap
g.  Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan Rumah Sakit
h.  Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit
        Sarana Prasaranan an peralatan yang ada di Rumah Sakit Umum kelas B harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki oleh Rumah sakit kelas B harus memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh Menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di Rumah Sakit Umum Kelas B harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh undang-undang.
        Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum kelas B minimal terdapat 200 buat tempat ti